Gananews.com ( Surat terbuka ini kami sampaikan sebagai bentuk kepedulian sekaligus pengingat akan tanggung jawab bersama terhadap rakyat Aceh yang saat ini terdampak bencana banjir di berbagai wilayah. Musibah ini menuntut kehadiran nyata dan sikap proaktif dari seluruh elemen masyarakat Aceh.
MoU Helsinki bukan semata perjanjian damai untuk mengakhiri konflik, melainkan juga komitmen moral dan sosial untuk menjamin kesejahteraan, keadilan, serta perlindungan bagi seluruh rakyat Aceh. Dalam semangat tersebut, penderitaan masyarakat akibat banjir merupakan persoalan bersama yang tidak boleh diabaikan.
Kepada Komite Peralihan Aceh (KPA)
Sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan dan transformasi Aceh pasca-MoU Helsinki, KPA memiliki tanggung jawab moral untuk terus berdiri bersama rakyat. Kami berharap KPA dapat lebih proaktif dalam upaya kemanusiaan, mulai dari pengorganisasian relawan, pendistribusian bantuan, hingga pengawalan pemenuhan hak-hak korban banjir secara adil dan merata. Kepedulian terhadap korban bencana merupakan wujud nyata dari semangat perjuangan yang berpihak kepada rakyat sebagaimana diamanatkan oleh MoU Helsinki.
Kepada Mahasiswa Aceh
Mahasiswa adalah penjaga nilai-nilai kritis, keadilan, dan keberlanjutan perdamaian. Dalam konteks MoU Helsinki, mahasiswa memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa perdamaian tidak berhenti pada tataran elite, tetapi benar-benar dirasakan oleh rakyat. Kami mengajak mahasiswa Aceh untuk aktif terlibat dalam aksi kemanusiaan, penggalangan dana, advokasi kebijakan kebencanaan, serta pendampingan bagi masyarakat yang terdampak banjir.
Kepada Ulama dan Tokoh Agama Aceh
Ulama memiliki posisi sentral dalam menjaga moral, persatuan, dan nilai keadilan sosial di Aceh. Dalam semangat MoU Helsinki serta ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, kami berharap para ulama dan tokoh agama dapat menggerakkan umat untuk membantu korban banjir, baik melalui seruan dari mimbar, pengorganisasian bantuan, maupun doa dan aksi nyata. Perdamaian sejati hanya bermakna apabila penderitaan rakyat tidak diabaikan.
Kami meyakini bahwa MoU Helsinki akan kehilangan maknanya apabila kesejahteraan dan keselamatan rakyat Aceh tidak menjadi prioritas bersama. Oleh karena itu, kami mengajak KPA, mahasiswa, serta ulama dan tokoh agama Aceh untuk bersinergi, melampaui kepentingan kelompok, dan hadir secara nyata di tengah masyarakat yang sedang dilanda musibah.
Semoga surat terbuka ini menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan hanya tentang kesepakatan masa lalu, melainkan tentang tanggung jawab hari ini dan masa depan rakyat Aceh.
Teranda
Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka
Syukri Ibrahim






