oleh

Menteri Keuangan Buka Suara, 311 Triliun Berupa Hutang Atau Hibah

Gananews|Denpasar-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya buka suara terkait komitmen Presiden Amerika Serikat Joe Biden untuk mendanai transisi energi di Indonesia hingga US$ 20 miliar atau sekitar Rp 311 triliun (asumsi kurs Rp 15.564 per US$).

Pendanaan ini akan disalurkan melalui inisiatif Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Jepang. Kedua negara maju ini akan memimpin negosiasi dengan International Partners Group terkait pendanaan transisi energi di Indonesia, terutama untuk meninggalkan batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Apakah komitmen pendanaan ini berupa utang atau hibah? Sri Mulyani mengatakan, komitmen pendanaan ini masih akan dibahas lagi rinciannya dengan sejumlah pihak terkait karena ini merupakan kombinasi dari multilateral development bank, bilateral, dan juga filantropi, maupun hibah (grant).

“Kita akan lihat dari sisi detailnya karena itu berbagai kombinasi dari multilateral development bank, bilateral, dan juga dari sisi filantropi, grant (hibah), itu yang akan kami lihat. Nanti kita akan lihat,” tuturnya. Namun dia menegaskan pendanaan US$ 20 miliar ini sudah pasti dari pihak internasional, tak ada dari institusi Indonesia.

“Itu nanti dari internasional,” tegasnya, Lantas, pendanaan ini untuk program apa saja? Apakah hanya untuk percepatan pemensiunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara atau juga untuk program lainnya?

Seperti dilansir CNBC, Sri Mulyani menyebutkan, program ini nantinya akan ditujukan untuk percepatan pemensiunan PLTU batu bara. Namun nanti akan dilihat apakah ada aset PLTU PLN yang sudah siap untuk dipensiunkan atau PLTU dari pengembang listrik swasta (Independent Power Producers/ IPP).

“Jadi akan dilihat berdasarkan yang kemarin disampaikan, dari PLN ada yang sudah siap berasal dari aset PLN sendiri, berasal dari IPP sudah diumumkan dari INA keterlibatannya, jadi per projek akan dilihat,” jelasnya.

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat KTT G20 hari pertama, Selasa (15/11/2022), sempat mengatakan bahwa pihaknya dan negara-negara maju berkomitmen menggalang dana sebesar US$ 20 miliar untuk Indonesia dalam rangka mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mendukung percepatan transisi energi melalui penghentian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.

“Kami dengan Indonesia dan Jepang bersama-sama menciptakan Just Energi Transition Partnership (JETP) untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE). Bersama kita memobilisasi US$ 20 miliar dalam pengembangan EBT dan mendukung transisi energi untuk menjauhi batu bara. US$ 20 miliar ambisi institusi keuangan untuk transisi energi yang bisa dirasakan dampaknya untuk dunia,” tuturnya saat KTT G20 di Bali, Selasa (15/11/2022).

Biden mengatakan, ini juga bisa digunakan untuk mendorong proyek berbasis energi terbarukan seperti mendukung pengembangan kendaraan listrik dan teknologi.

“Ini juga bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa berkontribusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim global,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Biden juga mengungkapkan bahwa G7 secara resmi meluncurkan pendanaan global untuk infrastruktur dengan mobilisasi pendanaan hingga US$ 600 miliar untuk lima tahun ke depan.

“Ini untuk pembangunan berkualitas, infrastruktur berkelanjutan, dan investasi rendah karbon untuk negara-negara berpenghasilan menengah (negara berkembang),” tuturnya.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali yang berlangsung pada 15-16 November 2022 telah resmi ditutup Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin, Rabu (16/11/2022).

Selain membawa kabar positif soal komitmen AS dan negara maju lainnya sebesar US$ 20 miliar untuk transisi energi di Indonesia, Presiden Jokowi juga mengungkapkan hasil positif lainnya dari penyelenggaraan KTT G20 di Bali ini.

“Ada beberapa yang dihasilkan, terbentuknya Pandemic Fund yang terkumpul US$ 1,5 miliar. Kemudian, pembentukan dan operasionalisasi <span;>resilience and sustainability di bawah IMF US$ 81,6 miliar untuk membantu negara-negara yang menghadapi krisis. Lalu, Energy Transition Mechanism untuk Indonesia memperoleh komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) program US$ 20 miliar,” paparnya saat konferensi pers usai penutupan KTT G20 di Bali, Rabu (16/11/2022). “Hasil yang konkret, meski banyak sekali sebetulnya hasil lainnya,” Tutup Sri Mulyani.(Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *