oleh

Kasus Sigi, Saudara Sebangsa Harus Tunjukkan “Kemarahan” Bersama

GANANEWS |JAKARTA – Semua anak bangsa Indonesia terutama para pemuka agama layak marah dan mengutuk keras perbuatan keji dan biadab terhadap penduduk Sigi, Sulteng.

“Itu perbuatan biadab, melebih perilaku binatang buas,”tegas Suryadi, ketua dewan pembina Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (PUSKOMPOL), dalam pers rilisnya kepada media. Minggu (29/11/2020) di Jakarta.

FB-IMG-1653916326685

Diketahui, pekan lalu, pada Jumat (27/12) telah terjadi pembunuhan dan pembakaran empat penduduk hingga tewas di Lewonu, Dusun 5 Tokelemo, Desa Lemban Tongos, Kecamatan Palolo.

“Di kampung dalam wilayah Kabupaten Sigi itu, sekawan laki-laki yang diduga dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), juga dibakar tujuh rumah penduduk, dari tanda-tanda yang diberikan, selain bersenjata tajam dan senjata api, diduga mereka yang melakukan kebiadaban itu adalah kelompok MIT,”katanya.

Sejak tewasnya Santoso dalam Operasi Tinombala pada 2017 lalu, MIT dipimpin oleh Ali Kalora. Diduga pembunuhan dan pembakaran di Sigi pekan lalu dipimpin langsung Ali Kalora.

Suryadi yang menyusun tesis berjudul “Pelibatan TNI dalam Penanggulangan Terorisme, Studi Kasus Operasi Tinombala (2016)”, menjelaskan, MIT lewat kebiadabannya ingin mengirimkan pesan bahwa mereka masih eksis.

Seperti diketahui, berkat operasi Tinombala yang berkelanjutan, bahkan sudah memasuki fase penegakkan hukum dan recovery wilayah yang pernah dirusak dan dihantui ketakutan dalam dua-tiga tahun terakhir, kini MIT ingin memecah-belah kembali kedamaian yang sudah berangsur pulih.

Selain biadab, kata Suryadi, MIT licik memanfaatkan situasi agar muncul kesan mereka marah atas kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya.

Perlunya semua komponen anak bangsa ini mengutuk. Lanjutnya, untuk menunjukkan empati dan keprihatinan kepada keluarga korban. “sekaligus membuktikan bahwa anak-anak bangsa yang majemuk secara etnis, budaya, dan agama tetap utuh dalam satu identitas bangsa Indonesia,”tegas Suryadi

Bahkan, lanjut  Suryadi, wakil Sekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) itu, adalah sangat mungkin secara konkret dari jauh membantu kebutuhan matrial untk membantu membangun kembali tujuh rumah yang musnah dibakar para pengkhianat kesatuan bangsa itu.

Bantuan-bantuan serupa itu, bila justru datang dari saudara sebangsa jauh dari Sulteng, akan memgembalikan rasa percaya diri.

“Mereka akan merasa tidak sendiri, tapi bersama-sama saudara-saudara sebangsanya meski berada di belahan daratan pulau yang berbeda,”Tutup Suryadi. (Rilis)

FB-IMG-1653916326685

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.