Gananews.com ( Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat terjadinya deflasi pada Januari 2026. Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Provinsi Aceh, Tasdik Ilhamudin, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan di lima kabupaten/kota, Aceh mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m).
Pemantauan tersebut dilakukan di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Barat (Meulaboh), Aceh Tamiang, serta Kota Banda Aceh dan Lhokseumawe. Deflasi ini ditandai dengan penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 114,40 pada Desember 2025 menjadi 114,23 pada Januari 2026. Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Aceh masih mengalami inflasi sebesar 6,69 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 2,01 persen dengan kontribusi terhadap deflasi sebesar 0,79 persen. Namun, secara y-on-y, kelompok tersebut justru mencatat inflasi tertinggi sebesar 6,42 persen dengan andil 2,46 persen.
Komoditas utama yang dominan menyumbang deflasi secara m-to-m antara lain telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng. Sementara itu, komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi y-on-y meliputi tarif listrik, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, serta sigaret kretek mesin (SKM).
Secara wilayah, inflasi m-to-m terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Lhokseumawe, sementara daerah lainnya mengalami deflasi. Namun demikian, secara tahunan, seluruh kabupaten/kota yang dipantau BPS tercatat mengalami inflasi.
Selain perkembangan harga konsumen, BPS Aceh juga mencatat adanya kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026. NTP Aceh tercatat sebesar 125,17 atau naik 0,95 persen dibandingkan Desember 2025, yang mengindikasikan membaiknya daya beli petani.
Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada Januari 2026 tercatat sebesar 154,93, mengalami penurunan 0,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas kopi, jagung, dan cabai merah. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) turun sebesar 1,01 persen menjadi 123,78, dipengaruhi oleh penurunan harga bensin, beras, dan cabai merah.
Dari sisi perdagangan luar negeri, BPS mencatat neraca perdagangan Aceh pada Desember 2025 mengalami surplus sebesar US$6,54 juta. Nilai ekspor Aceh mencapai US$59,69 juta, lebih tinggi dibandingkan nilai impor sebesar US$53,16 juta.
Ekspor Aceh pada Desember 2025 mengalami kenaikan sebesar 2,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas utama ekspor masih didominasi oleh batu bara dengan nilai US$42,42 juta atau berkontribusi sebesar 71,07 persen terhadap total ekspor Aceh.
India menjadi negara tujuan ekspor terbesar Aceh dengan nilai mencapai US$52,19 juta atau 87,43 persen, didominasi batu bara dan crude palm oil (CPO). Selanjutnya Thailand dengan nilai US$3,98 juta yang juga didominasi batu bara, serta Amerika Serikat sebesar US$1,18 juta dengan komoditas utama kopi dan rempah-rempah.
Sementara itu, impor Aceh pada Desember 2025 didominasi oleh komoditas propana dan butana senilai US$43,19 juta. Negara asal impor terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$23,41 juta, diikuti Qatar sebesar US$10,19 juta dan Uni Emirat Arab sebesar US$9,60 juta, yang seluruhnya berupa gas propana dan butana.
Di sektor pariwisata dan transportasi, BPS mencatat peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada Desember 2025 yang mencapai 4.836 kunjungan atau naik 33,15 persen dibandingkan November 2025. Namun, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang dan non-bintang justru mengalami penurunan. Sementara itu, luas panen dan produksi padi serta jagung sepanjang 2025 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang menjadi perhatian dalam menjaga ketahanan pangan Aceh ke depan.(**)






